They are Made, not Born

12:09:00 PM
Who are they?

Membuka postingan dengan judul basa Inggris, dan dilanjutkan paragraf pertama bahasa Inggris juga supaya terlihat Inggris, padahal basa Inggrisnya aslinya pas-pas-an hahaha.

Btw, ini Babap yang nulis ya, supaya jelas dulu di awal.

Baiklah, markimul, mungkin pernah dengar quote ini, ya, entah di internet, di seminar-seminar, atau di acara-acara jaman mahasiswa dulu :
dan menurut saya, and so do Fathers. Tidak ada orang yang terlahir sudah jadi seorang Ayah, you name it, siapa deh, Ayah paling jago di dunia, pasti dia terlahir sebagai seorang anak, bukan seorang Ayah. Kenapa? Karena ngeri kalau pas lahir tiba-tiba yang keluar bukan bayi, tapi bapak-bapak bekumis bejenggot, dalam wujud yg kecil hahaha.

Kembali ke topik, saya berpikir begitu dari pengalaman dan pengamatan, bahwasannya menjadi seorang bapak itu perlu usaha, dan mengubah banyak hal.

Dulu waktu Kami lahir, saya dan Bunik belum siap menjadi orang tua, kita berdua masih seperti mahasiswa baru lulus yang sudah dapat kerjaan, and even worse, saat itu kita masih tinggal bersama orang tua (Ayah & Ibu Bunik). 

Everything seemed so easy, bangun kesiangan tidak masalah, ada Ibu yg udah masak buat sarapan kita, kalau Kami nangis malem-malem, ada Ibu yg gendong sehingga kita bisa tidur, pergi-pergi dianter jemput sama Ayah, pengeluaran juga minim karena belanja-belanja sudah dilakukan sama Ayah Ibu. Ya, mungkin karena itu sering disebut Pondok Mertua Indah, karena hidup begitu mudah di situ.

Tapi tidak seindah yang terlihat, karena ada kalanya kita punya rencana sendiri, tidak bisa terlaksana karena Ayah Ibu punya rencana yg lain. Dan hal-hal lain yang membuat suasana tidak nyaman bagi saya, Bunik, maupun Ayah Ibu. Layaknya kapal dengan dua nahkoda (mbuh opo maksute, pokoknya dulu Bunik suka bilang gitu hahaha).

Lalu saya teringat, bukankah waktu menikah dulu kita sudah meminta kepada mertua kita untuk membawa anak gadisnya bersama kita, dan bertanggung jawab atasnya dan anak-anaknya kelak?

Dari situ kita memutuskan untuk untuk pisah rumah, ready or not. It's not easy, bagi saya pisah rumah ini adalah hal tersulit setelah sidang akhir kuliah beserta embel-embelnya (hahaha, sepele kali, ya, kehidupannya).

Tapi mulai dari sinilah pembelajaran untuk jadi Ayah dimulai. Kita tinggal bertiga, jadi harus bagi-bagi tugas. Tugas Ayah adalah mencari nafkah; tugas istri adalah ngurus rumah, suami dan anak, right? WRONG!

Flashback dikit, saya pernah mendengarkan khutbah Jum'at dengan judul "Negeri Tanpa Ayah", di situ diceritakan bahwa anak-anak kecil kehilangan sosok Ayah, karena Ayah yang bekerja berangkat pagi pulang malam mengakibatkan dia tidak sempat meluangkan waktu untuk anak-anaknya, sehingga anak-anak laki-laki tumbuh menjadi sosok yang lemah gemulai (baca : bencong, wkwkwkwk), dan anak-anak gadis tumbuh menjadi wanita yang mudah terbuai gombalan cowok-cowok. 

Itu karena anak laki-laki tidak pernah melihat ketegasan dari Ayahnya, dan anak perempuan tidak mendapat kasih sayang dan gombalan-gombalan dari Ayahnya, mereka hanya melihat Ibunya sebagai contoh (ini khutbah jumat ya, bukannya saya bilang tidak ada Ibu-ibu yang tegas, peace Ibu-ibu).

Dibilang juga bahwa Ibu adalah guru dan sekolah pertama bagi anak-anak, lalu Ayah jadi apa? Ayah jadi kepala sekolah. Sekolah yang tidak ada kepala sekolahnya tidak akan beres guru dan murid-muridnya, right? RIGHT! hahaha.

Ya, mungkin keluarga saya termasuk beruntung, karena Bunik kerja di Bogor, dan walaupun saya kerja di Jakarta, tapi masih bisa pulang sebelum magrib (seriously? kantor macam apa ini 👻 ), mungkin ada keluarga yg terpaksa harus meninggalkan anaknya demi kelangsungan kehidupan, atau alasan-alasan lain, but that's another story, mungkin buat blogpost yg lain.

Salah satu yang berubah, dulu saya suka main game online (yang mana orang bilang, you can't pause an online game!), sekarang ngga bisa (eh bisa sih, dikit-dikit hahaha), karena misal Bunik lagi makan, anak nangis, Ayah harus gendong/ajak main/usaha lain untuk mengasuh si anak. 

'Kan bisa Bunik berhenti makan dulu, gendong bentar, trus nanti lanjut makan lagi? Ya, bisa aja sih kalo tega sama istrinya; yang dulu waktu belum punya anak disayang-sayang, dibukain pintu mobil (kalo yg punya mobil), disiapin footstep waktu mau bonceng (kalo yg punya motor), yang jalan aja digandeng (kalo yg jalan kaki), padahal udah gede; yang juga udah begadang nenenin newborn tiap 3-4 jam, gendong malem-malem pas anak rewel karena sakit. 

Ya, kalau bapak-bapak merasa itu wajar karena nanti surga di telapak kaki ibu, ya silakan aja, tapi saya tidak. 

Ibu juga punya hak untuk makan enak, tidur nyenyak, nyalon dengan tenang, whatsapp-an sama teman-teman, main instagram, dll dll; dan di saat-saat itu, kita menggantikannya sejenak, biar bapak-bapak tau susahnya jadi Ibu. Juga, biar anak-anak tau bahwa Ayahnya adalah orang yang bisa diandalkan saat Ibunya tidak bisa.

Ya, saya pun tidak tau apakah yang saya lakukan sekarang sebagai bapak itu sudah baik atau belum, saya tidak tau di masa depan nanti Kami dan Yayo akan jadi anak yang seperti apa, entah jadi anak berbakti pada orang tua, atau tidak. Saya pun tidak tau bagaimana caranya jadi bapak, kan belum pernah. Tapi saya berusaha, tanya ke Bunik apa yang perlu saya lakukan di situasi-situasi yang mungkin hanya Bunik yang mengerti apa yang harus saya lakukan. 

Karena Bunik bilang: bikinnya berdua, ngurusnya berdua. Makanya kita berdua ngobrol untuk urusan anak dan keluarga (terus seringnya beda pendapat muluk! -ini Feni yang tulis 😜 ). 

Kepala sekolah sama guru harus satu visi, 'kan, supaya murid-muridnya jadi anak yang (lebih) baik.

Saya ingin jadi bapak sebelum terlambat. Tidak menjadi bapak yang saat di masa depan ditemukan mesin waktu, dia pergi ke masa lalu untuk memberi tau dirinya yang muda untuk menjadi bapak. 

Menjadi bapak yang menyaksikan saat ditemukannya mesin waktu, dan saya berkata "Saya sudah menuntaskan tugasku sebagai bapak dulu, tidak perlu ke masa lalu, tak ada yang perlu diubah".

Seperti yang sudah pernah saya tulis "Time is a one way street with no turning back".

After all, father is a leader, leader of his family, right?

14 comments:

  1. babaaaaaaaaaaaaap! juara deh artikelnya :)

    setuju bangeeeeeeeeet lah pokoknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. okelah, kata setuju bisa dituker dengan secangkir latte di Maraca, eaaaaaa

      Delete
  2. bap, kamu manusia? aku jd PO ttd ya...tolong ttd di jidat laki guwa dong Bap XD

    ReplyDelete
  3. as always...tulisan babap selalu pengen aku share ke khalayak ramai ((khalayaaaak)) :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kerjain lu nhw, malah komen2an wkwk

      Delete
  4. babap mesti tostosan sama suami aku. kalian juaraaaa.
    semoga semakin banyak ya suami-suami cuek nan sayang istri kayak gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmm. seperi tidak mungkin, dua manusia cuweks akan tos2an hahahahahaahahah

      Delete
  5. Setuju. Alhamdulillah pak suami beraliran sama. Mau bantuin istri di rumah plus ngurus anak. Lagian.. Anak kan buatnya berdua, jadi ya ngurusnya harus berdua juga. :)

    ReplyDelete
  6. aduh ini juara,, semua bapak-bapak harus baca! suami aku lumayan bantuin sih walaupun kadang juga yaaa suka gak bisa diandelin gantian ngurus anak (baca: anaknya gak mau sama bapaknya, hadeuh..

    ReplyDelete
  7. KEREN & KECE.

    (walau aku banyak ngakaknya juga. tetep bisa ya babap curi-curi main online game. ahahahha.)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan curi lagi, kadang ngerampok. wkwkwkwkwk.

      bu juga punya hak untuk makan enak, tidur nyenyak, nyalon dengan tenang. Dan Bapak boleh MAIN GAMEEE.

      Pamrih dia ternyata wkkwkwwkkwkwkwkwkwk

      Delete
  8. wah, rasanya jarang nemu tulisan ginian langsung dari sosok bapak2. kebanyakan istrinya curhat gimana suami seharusnya hehe..
    wah keren ini.
    nanti kalo punya suami, suruh baca ah.
    entah kapan..

    haha

    ReplyDelete

/ thank you for stopping by

Powered by Blogger.