Friday, August 19, 2016

Terus, kenapa mau hamil lagi?


Hahaha, bukan bukan, bukan mata pemirsa yg salah membaca, tapi ini emang postingan yg berbeda dengan judul yang sama, mungkin tadi berpikir "perasaan kemarin baca bukan gini intronya, apa salah baca ya kemarin ?", no, Anda benar, emang beda intronya, karena ini adalah postingan tandingan, supaya pemirsa bisa melihat dari sudut pandang Babap yg pakai kacamata (eh, Bunik juga pake kacamata ya, hahaha). Ya udah, diganti sudut pandang Babap yg pakai kacamata yang tidak silindris kayak Bunik hahaha.

Alasan Bunik punya anak lagi itu kan pertama feeling, terus Kami pingin punya adek, sama masa lalu di mana dia dibesarkan dengan mempunyai adek, tapi buat saya, ya itu-itu juga sih hahahaha.

Ngga dong, kalo sama ngapain nulis2 beginian segala, masih banyak hal menyenangkan yg lain yang bisa dilakukan untuk menghabiskan jam kerja di kantor (eaaa.. gabut aja kerjaannya di kantor) menuju jam pulang yaitu setelah sholat ashar (sholatnya gasik (lebih cepat -red), adzan langsung 'cus hahaha).

Ya mungkin alasan kedua dan ketiga Bunik itu bisa jadi alasan saya juga ya, Kami kan anak kita berdua, jadi keinginan dia adalah tanggungan kita berdua untuk mewujudkan (selama kita mampu dan masuk akal). Tapi alasan feeling itu, no, unlike me sekali. Lagian kata Bunik gini "'kan katanya mother's feeling is always right, ya.. katanya", berati father's feeling may not always right dong (eh mbuh ding ini bener apa gak, wong aku juga senengane ngawur kok).

Alasan saya punya anak lagi adalah, that is the least I can do for better future of human kind (bahahaha, buat umat manusia coy, cita-citanya ngerik). Sederhana aja sih aslinya, saya ingin masa depan yang lebih baik buat Kami, dan adiknya, dan mungkin anak cucu mereka kelak, dan orang-orang di sekitarnya, dengan cara membesarkan anak(-anak) kita (saya dan Bunik) dengan akal sehat, agama, kebaikan, kejujuran, dll dll yg baik-baik.

Trus hubungane opo sama punya anak lagi ? Hahaha, hubungannya adalah, saya tidak ingin di-outnumber sama orang tua yang tidak membesarkan anaknya dengan baik. I'm not judging, nor declaring that we are the best parents in the world, kamipun sedang belajar bagaimana cara yang baik buat membesarkan anak, kamipun masih sering berbuat kesalahan (yang mungkin tidak kita sadari itu sebagai sesuatu yang salah), tapi kami berusaha untuk jadi good parents, kami cari info dari metode parenting A B C D, dan menerapkan mana yang possible untuk diterapkan ke anak kami (yang kebetulan nama panggilannya adalah Kami, hahaha, ra penting).

Bagus atau tidak hasil didikan kami? Time will tell, suatu hari nanti kami akan menua menjadi orang yang bangga telah membesarkan anak(-anak)nya, atau jadi orang yang menyesal telah membesarkan anak dengan hasil seperti apapun mereka di masa depan itu. Karena itulah kami berusaha sebaik-baiknya supaya tidak menjadi orang yg menyesal itu.

Saya masih sering melihat bapak yang mengantarkan anak ke sekolah SD, naik motor pagi-pagi sekali, mungkin SD-nya adalah SD favorit, yang terbaik di kotanya, makanya jam masuknya pagi. Tapi dia tidak pakai helm, melanggar lampu merah supaya anaknya tidak terlambat, karena masih pagi, tidak ada polisi, jadi biar saja pikirnya melanggar aturan. Tapi kalau nanti ketika anaknya besar jadi anggota geng motor? Siapa yg mau bapak salahkan? Guru-guru yang mengajarnya? Teman-teman mainnya? Look at yourself, Pak, Bapak memberi contoh cara naik motor yang tidak benar sejak dia masih sekolah SD.

Saya juga masih sering melihat ibu yang membesarkan anaknya di jalanan, ibu yang menjadikan mengemis sebagai profesi, malah menjadikan anaknya sebagai alat untuk mendapat belas kasihan lebih sehingga mendapat uang lebih banyak. Mungkin uang ibu itu banyak, dan dia bisa menyekolahkan anaknya sampai S1, S2, S3, dan bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Tapi mental yg ibu contohkan kepada anak ibu sejak kecil adalah mental pengemis, entah seperti apa jadinya di level anaknya ketika sudah besar nanti.

Masih ada juga ibu-ibu yang ketika ke fasilitas umum, menyuapi anaknya di area bermain yang jelas-jelas terpampang peringatan dilarang membawa makanan/minuman ke area bermain. Berwisata naik KRL bersama anak-anaknya membawa bekal yang dimakan di KRL (yang jelas-jelas dilarang, kecuali waktu buka puasa, diberi kesempatan buat membatalkan puasa dulu, curcol penumpang KRL nih, ye.. hahaha), yang kemudian sampahnya dibuang dalam gerbong, dipikirnya nanti juga ada yang nyapuin.

Dan, masih banyak lagi kalau kita lihat sekeliling, contoh-contoh orang tua yang menurut saya kurang waras dalam membesarkan anak, mungkin nanti di-post di lain waktu, soalnya ini udah panjang ternyata ya hahaha.

Masalahnya adalah bapak ibu semacam itu mungkin tidak berpikir panjang untuk punya anak lagi, empat, lima, enam, atau mungkin tujuh anak, yang mereka besarkan seperti itu. Nah, saya tidak mau kalah jumlah dengan orang tua semacam yg di atas, that's why kita nambah anak. Berarti nanti setelah lahiran nambah lagi dong, jadi tiga, trus empat, trus lima, dst. Ya ngga gitu juga, ada limitnya, batasnya adalah kemampuan kami sebagai orang tua, dari segi waktu, finansial, dll dll, ya at least kita berusaha mengurangi rasio anak yang kurang oke dengan yang oke (kalau kita berhasil, ya, hahaha).

Kalau kita paksakan punya banyak anak, bisa jadi saya menjadi seperti bapak yang di atas itu, karena pagi-pagi harus antar anak-anak ke sekolah masing-masing, padahal harus cepet-cepet berangkat kerja, jadi harus cepat, biar cepat langgar aja lampu merah, toh jalan sepi dan tidak ada polisi. Atau bisa jadi saya menjadi seperti ibu yang di atas, karena anaknya banyak dan kita tidak mampu secara finansial, maka mengemis aja, gampang ngga perlu sekolah dulu.

Saya tidak mengatakan bahwa anak bapak di atas pasti akan jadi geng motor, bisa jadi anak bapak tadi jadi orang yang baik, jadi menteri, atau presiden. Begitu juga dengan anak ibu di atas, bisa jadi dia jadi pemimpin perusahaan yang baik, dermawan dan memberikan kebaikan ke sekelilingnya. Saya juga tidak mengatakan bahwa anak(-anak) kami akan menjadi lebih baik dari anak bapak dan ibu di atas, bisa jadi kami menjadi orang tua yang menyesal seperti yang di atas.

So, kami mau membesarkan anak-anak dengan cara yang benar, berusaha menjadi orang tua yang baik, walau kamipun tidak tahu bagaimana cara menjadi orang tua yang baik, well, we've never been a parents before, tapi kami berusaha, supaya kami jadi orang tua yang bangga di masa depan, supaya dunia jadi tempat yang lebih baik untuk semua, supaya anak(-anak) kami menjadikan dunia jadi tempat yang lebih baik untuk semua.

Terakhir nih, beneran, penutup, habis ini udahan dah. Saya mohon maaf kalau tulisan di atas mungkin menyinggung beberapa pihak, tidak bermaksud begitu, peace, dan semoga tulisannya bermanfaat. Salam supeeeeer hahaha.

9 comments

  1. Setuju sama tulisan elu ini.. Ih tumben kita sepaham yah buni 😜

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHAHAHA itu tulisan si Babaaaaap! :)))))

      Delete
  2. love you full babap (love tulisannya :p) *sksd sama babap*

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk estrinya padahal kurang ngerti juga, aku harus baca 3-4x baru mudheng :))))

      Delete
  3. bap, jd kapan mau ttd-in kaos ekeh bap?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hoakakakakakka nggilani kowe

      Delete
  4. semoga kita semua bisa jadi ortu yg baik ya mba, caranya ya dengan meperbariki diri terus :)

    ReplyDelete

/ thank you for stopping by

© / besinikel